Gila,
ya.
Cinta itu bisa
bikin kita menggilai dan mendambakan sosok seorang yang bahkan belum pernah
kita jumpai sama sekali. Bagaimana wujud cinta itu? Haruskah kita percaya pada nya?. Entahlah,
percaya haruskah berasal dari wujud?
Bagaimana dengan percaya terhadap tuhan yang selalu mengasihi kita? Bukan kah Ia tak berwujud?. Gimana gue tahu bahwa sesuatu yang ada
disekitar gue dan dia itu adalah cinta?
Yang pertemuan kami tak diawalkan dengan senyuman, jabatan,
bahkan sapaan? Entah apa
itu, tapi gue selalu percaya pada
nya, apa pun yang terjadi, rasa ini akan selalu hidup.
Aneh, cocok sekali kata itu men-deskripsi-kan seseorang itu yang selama ini gue
kenal. Kenapa banyak orang yang
menganggap hal aneh itu termasuk kedalam golongan buruk?. Apa karna mereka membutuhkan orang yang
benar-benar sesuai dengan apa yang mereka mau?.
Tidak akan pernah ada sosok yang sesempurna yang kita dambakan. Gue emang butuh seseorang yang semacam
dirinya, aneh. Gue menggilai segala sisi ke-aneh-an nya. Seseorang
itu berbeda.
Berapa
juta kali dia mampu menimbulkan senyum dan tawa gue hanya lewat kata-kata nya?. Membuat gue selalu merasa nyaman disamping
nya dalam kotak obrolan di sosial media itu.
Merasa tidak ingin kehilangan sosoknya disana. Gue selalu merasakan nyata-nya diri nya
setiap kali kita berbincang, seolah-olah
dia ada di depan gue saat itu. Lupa
selalu diri gue akan jarak ribuan atau jutaan kilometer yang memisahkan kita
ketika gue sudah berbincang dengan nya.
Kenyamanan luar biasa yang dia ciptakan saat itu. Membuat tidak pernah menginginkan kepergian
nya.
Mendapatkan
sosok teman hidup dalam jarak yang lebih dewasa dari gue, membuat gue ikut berkembang menjadi lebih
dewasa. Dibalik setiap untaian kalimat
yang dia keluarkan setiap kali nya,
selalu dia selipkan nasihat yang menuntun gue ke tingkat yang lebih
tinggi dari sebelumnya. Dia menuntun gue
ke jalan yang memang seharusnya gue tempuh.
Menasihati gue tanpa amarah dan selalu bersabar, meskipun dia tahu bahwa gue memang jengkel
ketika dia nasihati.
Jarak? Gue gak pernah peduli akan nya. Gue tidak meng-sangkut-paut-kan segala yang
kita jalani dengan jarak. Hanya sedikit
mengeluh, kenapa jarak itu harus tega
memisahkan dua insan yang ingin saling menggenggam seperti kita? Mengapa tidak ia pisahkan saja diri nya
dengan seseorang yang disana yang sudah sama-sama tidak saling ingin
berpegangan satu sama lain?. Gue tidak
akan pernah membiarkan satu kata berjuta makna itu memisahkan kita, tidak akan pernah. Karna gue percaya, suatu saat, tangan ini akan
menggenggam yang memang seharusnya ia genggam;
tambatan hati nya.
Rumit, gue gak tau gimana harus ngejelasin dari awal
apa yang udah gue lalui sama dia. Awal
seperti apa? Seperti cerita yang tidak
perlu memulai awalan. Langsung masuk
pada inti cerita. Mungkin karna memang
kebanyakan cerita diawali dengan hal-hal yang hanya bualan saja, tak penting–membosankan. Banyak banget kisah yang udah gue lalui
selama ini bersama nya. Dengan status
yang setiap kali gue coba ceritakan ke insan lain, selalu mendapat tanggapan “Itu namanya
HTS. Hubungan Tanpa Status. Belum resmi lahir batin”. Halah,
lebay. Entah apa yang dia rasakan
selama menjalin hubungan ini–yang entah apa namanya. This
love is difficult, but its real.
Gue
sekolah, dia kerja. Gue pulang sore, dia sedikit lebih malam. Malam nya kami bersenda gurau tentang
beberapa jam yang sudah kami lalui tadi.
Tertawa. Kadang juga banyak diam
nya. Gak bisa gue ngomong layaknya orang
normal kalau udah dengar suaranya.
Getir. Takut salah ngomong. Hanya bisa mengalir. Mengulang-ulang omong. Bosan mungkin yang dirasakan nya. Tapi sebaliknya buat gue, denger suara dia selalu berhasil bikin gue
senyum-senyum sendiri. Bikin gue gak
tenang semalaman. Di sekolah
cengar-cengir tiap sekedar mengingat suaranya.
Apalagi ketika mengingat tawa nya.
Duh, Abang, cinta kali aku sama kau.
Satu
bulan, Abang. Jangan tanya apa yang aku rasa. Bahagia tentunya, Abang ciptakan banyak memori hanya dalam satu
bulan. Memori yang setiap kejadiannya
dapat terulang dengan detail ketika ada yang meminta. Kecewa?
Hanya sedikit, karna aku beberapa
kehilangan sosok Abang yang selalu ada disamping aku karna ketiduran, lebih sibuk dengan sosial media yang Abang
punya, atau yang lain. Sedih?
Belum pernah kau buat aku menangis Abang, selalu tertawa aku di buat kau. Marah?
Abang, aku paling tidak bisa
melakukan hal itu terhadap mu, terlalu
sulit untuk ku.
Sebelum
tepat satu bulan ini, kau sudah mampu
buat aku yang sekedar ‘iseng-iseng’ menanggapi permintaan kau yang ku anggap
gurauan semata, menjadi serius, menjadi selalu berusaha mendapatkan perhatian
kau. Menjadi manja. Alamak,
mana pula sosok macam ku jadi manja?.
Kau mungkin laki-laki pertama yang melihat ku manja-manja selain
Bapak, Bang. Terimakasih sudah menepati janji untuk
membuat aku lebih serius dengan hubungan ini–yang entah apa namanya. :))
Maaf
kalau satu bulan ini aku terlalu sering membuat mu kesal, membuat penat yang kamu rasakan setelah
bekerja semakin menjadi, Bang. Maaf kalau satu bulan ini aku terlalu sering
cemburu buta, tak jelas, semata-mata karna aku terlalu dalam.. Sayang sama kau, Abang.
Maaf kalau satu bulan ini terlalu sering memberikan mu nasihat, padahal kau lebih banyak punya pengalaman
dibanding aku, hanya khawatir sama
keadaan kau disana, Abang. Takut kau kenapa-kenapa. Maaf kalau satu bulan ini aku terlalu sering
membuat kepercayaan mu berkurang. Maaf
jika satu bulan ini aku terlalu sering mengecewakan mu dalam kata-kata ku, bukan niat yang mendasari nya, Abang.
Mungkin saat aku menjengkelkan aku hanya emosi karna terlalu lelah
menunggu kepulangan mu atau aku benar-benar membutuhkan perhatian mu. Rindu aku pada mu. Jengkelah jadi nya aku. Maaf kalau satu bulan ini sering membuat kau
muak dengan omong-omong berlebihan ku.
Semata-mata lagi, karna aku
membutuhkan perhatian mu, rindu.
Bagaimana
perasaan mu satu bulan ini? Tentu tak
sebahagia diri ku kan, Bang? Hehehe.
Tentu banyak rasa yang tak menyenangkan yang kamu dapatkan. Beruntungnya aku mendapatkan seorang kekasih
dalam jarak yang mampu membuat ku bahagia sepenuhnya setiap saat, namun,
seburuk apa derita mu harus mendapatkan dan menjaga seorang kekasih yang
tidak pernah bisa mengerti dan selalu membuat kesal seperti aku?. Aku sayang kamu, Abang.
Maaf aku belum bisa menjadi seperti yang kamu butuh kan selama ini. Maaf aku belum bisa menjadi prioritas mu yang
baik. Maaf atas semua sifat-sifat
mengjengkelkan-ku. Aku harap kamu terus
bisa bersabar menjadi kan ku seperti apa yang kamu mau, aku harap,
tidak akan pernah ada kata ‘perpisahan’ dari kita.
Boleh
aku meminta sesuatu dari mu, Bang? Jangan pernah pergi. Tetap disamping ku. Menjadi sosok penuntun yang baik dan tegas
untuk ku. Tetap warnai hari-hari
ku. Aku mohon. Tetap saling menggenggam, dalam do’a.
Jangan jauh-jauh kalau mau pergi,
Abang. Sekali pun harus
jauh, jangan sampai jatuh di hati yang
lain. Cukup hati ku yang jatuh pada
mu. Aku tak pernah bisa bayangkan
bagaimana jadi nya kalau kau harus pergi.
Aku cinta kali sama kau,
Bang. Anak umur 14 tahun yang
belum bisa apa-apa. Yang dipikiran ku, cinta itu sederhana sekali artinya, Abang.
Selamat
tanggal 6, Abang. Satu bulan kita jalani semua ini
bersama-sama. Kau jadi teman, abang,
sekaligus Bapak terbaik buat ku.
Terimakasih untuk pelukan hangat kau dari jarak jauh. Terimakasih untuk tetap mau membuat tawa ku
keluar. Terimakasih buat semua yang udah
Abang lakukan buat aku :). Tetap buat ku
tersenyum di tanggal 6 bulan-bulan selanjutnya ya, Abang.
Untuk
seseorang yang selalu mengajarkan aku tersenyum dalam keadaan apapun,
Seseorang
yang selalu bersikap dewasa di hadapan saya,
Seseorang
yang begitu nyata dalam khayalan saya,
Seseorang
yang nomor satu di hati saya,
Dimas
Rizky Pambudi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar