Cinta datang terlambat. Kalau,
‘gak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu’ kenapa gak, ‘gak ada kata terlambat dalam menuntut
cinta’?. Ilmu dan cinta, hal yang gak salah, namun dituntut. Halah,
apasih. Ada banyak materi didalam
satu postingan ini. Belum move on sepenuhnya, cinta datang terlambat, seseorang yang baru, tetap dalam jarak.. Too
much story in one post. Kali ini,
gue benar-benar menempatkan blog sebagai diary online. Gue harap
kalian para pembaca tetap setia men-scroll
tiap paragraf pada cerita kali ini.
Selamat membaca, selamat
menikmati, selamat tertawa, semoga selamat duia akhirat.
Kenal? Berbulan-bulan, tapi belum ada dua belas bulan. Pendekatan berbulan-bulan, pacarannya satu bulan. Huft.
Putus karna hal yang seandainya dimasukkan logika, seharusnya orang seumuran-nya itu faham tentang keadaan gue. Belum juga ketemu, udah ending
duluan. Kalau dibuatkan
dongeng, anak-anak kecil akan bertemu
dengan akhir cerita bukan ditutup dengan “they
are,
live happily ever after..” tapi “they
are, live saddly ever after..”. Kenapa gue harus memaksakan diri gue flashback lagi?. Long
Distance Relationship, semacam
jomblo terhina menurut gue. Udah tau
hina, tapi tetap gue pertahankan. Dibuatnya gue nyaman, ketawa,
nangis, galau, bahkan sudah sukses gue dibuatnya candu akan
diri nya, coz’, boy, you driving me crazy.
Ditinggal jadian. Lost
contact, yang gue berusaha berpikir
positif, bahwa dia sibuk dengan
kerjaannya di sebrang pulau sana. Ketika
dia is back dan gue tanyakan
kabarnya, dia bilang dengan santai
beberapa kata yang meng-arti-kan,
“baik-baik aja nih, sama yang
baru.”. Sukses gue gak berhenti
mengalirkan bulir kristal air mata ini.
Ditambah lagi dengan teman-teman gue yang masih berpikir bahwa gue tetap
memiliki hubungan khusus dengan nya.
Mereka menggoda dengan kata-kata yang justru bikin hati gue
tercabik-cabik. Anjrit, kenapa jadi nge-alay gini?.
“Selingkuhan mu aja bisa peduli
terus. Mana yang ngaku-ngaku jadi suami
mu dimasa depan?! Hah?” -Hafshah Aulia
Rahmati, pencandu Hubungan Tanpa Status.
Iya,
jutaan kali gue membayangkan bagaimana bisa bertemu dengan nya, bahkan gue udah nabung. Jutaan kali kita membayangkan membangun rumah
tangga bersamanya. Jutaan kali..
Ah, titit godzilla. Gue nulis begitu aja masih nangis. Masih belum bisa merelakan. Emang dia peduli gue kayak gini?. Lo kan
banyak yang naksir, Mik. Lo juga deket sama sana sini. Masa sih masih belum bisa move on? Tai ayam.
Lo kira dekat sama orang-orang disekitar gue pertanda kalau gue udah menemukan
seseorang yang baru?. Luka dari
kehilangan seseorang yang kita sayang karna tergantikan oleh yang lain itu gak
bakal bisa sembuh, kalau menurut gue. Ah sudahlah,
mulai sekarang, setelah gue post tulisan ini, I’ll
tryin’ to fuckin let him go. Oh
iya, seandainya elo baca ini, I just wanna say, not loving you is harder than you know, for me.
:)
Leaving always driving me crazy.
Tentang selingkuhan yang dibicarakan Mbak Hafshah, itu punya maksud tersendiri. Gue PHP.
Suka sebar harapan sana-sini. Gak
tau, bukan sengaja, cari sensasi,
atau pun cari ketenaran. Sekedar
karna gue suka diperhatiin. Seneng punya
banyak fans. Sampai ada yang menempatkan
gue sebagai selingkuhan nya. Gue sendiri
cuek. Gue mengganggap mereka gak lebih
dari fans yang terlanjur terpukau sama gue.
Makanya gue sering disebut tukang PHP sama selingkuhan orang. Buat apa gue tanggapi, gue emang orangnya suka menanggapi
orang-orang yang penasaran yang tetap dalam batasan manusia normal, kalau udah gak normal lagi, baru gue cuekin. Bukan bermaksud memberikan peluang
berharap.
Cari lagi.. Cari lagi.
Searching.. Loading.. . Berusaha menemukan sosok yang sama kayak
dia. Kayak orang bego gue terus mencari
tanpa tau jawaban yang ada itu pasti atau enggak. Sampai akhirnya, ada kata-kata,
“Kalau nyari yang sama kayak dia ya
juga percuma, sampai kamu nyari
disetitik debu pun gak akan ada yang sama kayak dia.” –Alwan Wijaya, mantan Ketua OSIS.
Terus gue harus ngapain
sekarang? Berhenti mencari sosok yang
sama kayak dia. Berhenti berharap dia
kembali. Berhenti mengejar sesuatu yang
gak pasti. Move away like a boss.
Dibilang, rezeki mah gak kemana.. Setelah gue belajar meng-ikhlas-kan. Datang seseorang itu. Seorang yang kalau, uhuk..
(Mohon maaf sebelumnya kalau aku
masih membandingkan dirimu dengan dirinya,
Mas) dia gak jauh beda sama yang
lalu. Gak, bukan gak jauh beda dalam hal
ke-kampret-an-nya. Tapi dalam hal yang
dapat membuat gue mabuk kepayang memikirkannya.
Pertemuan? Sama tolol nya kayak yang lalu juga. Sekedar chatting
biasa. Itu juga karna keisengan yang
tidak disengaja. Sekilas gue berpikir, asik
nih orangnya atau wah gue banget nih
orang. Penasaran. Namun hanya sekilas. Gue biarin aja ngalir. Kalau dia mulai ngechat, baru gue tanggepin. Sampai akhirnya, dia minta gue menjawab relationship yang ada di sosial media
itu. Gue nganggep dia becanda, gue sendiri kalau jadi dia pasti iseng begitu
ke banyak cewek. Banyak cewek, bukan gue doang. Gue terima permintaan itu juga dengan dasar
bercanda. Gak ada keseriusan sama
sekali. Namun, dia berkata lebih.
“Gue tau lu masih iseng sampe
sekarang, tapi gue janji, bakal buat lu yang bercanda, jadi serius. :)” Mampus lah gue. Memulai sebuah kisah dengan
ke-tidak-sengaja-an.
Awalnya sih bercanda, kita cuma chat
biasa. Sekedar cerita kesibukkan
masing-masing, cerita tentang kehidupan
masing-masing. Lama-lama.. Gue merasa ada yang berubah. Gue lebih terbuka ke orang yang gak gue kenal
sama sekali. Gue sering minta
saran, cerita-certai tentang masalah
gue, tanya-tanya soal apapun yang ingin
gue tanyakan ke dia. Dijawabnya dengan
panjang lebar pula. Wah, ada yang gak beres gue rasakan semenjak dari
situ. Ada hal yang harus gue luruskan. Perasaan.
Gue on the telephone-an terus sama dia tiap hari. Ketawa-ketawa. Cerita-cerita. Kesel.
Gemes. Lagi-lagi ngebahas tentang
masa depan, ngebahas gimana kalau
ketemu.. Ah, semua seperti terjadi lagi. Namun dalam bentuk yang beda. Kali ini,
dia benar-benar memberi warna.
Bukan sembarang warna, tapi warna
yang tertata. Rapih. Makin gak ngerti
gue sama apa yang gue rasain. Semua bercanda, Mik.
Gak ada keseriusan, gue
mencoba yakinkan dalam hati.
Percuma. Makin banyak kata yang
gue rangkai. Makin besar perasaan
itu. Asli, baru kali ini ngerasain bener-bener efek dari
Narkoba. Sekali-dua kali sedot, bikin candu.
Bikin pengen terus. Oh jadi gini,
Kalau kata Maudy Ayunda, “Mungkin memang ku cinta..”. Dimabuk cinta.
Kalau kata Sleeping With
Sirens, “As long as you here with me. I
know I’ll be okay.”
Intinya
sih, jadi sayang beneran.
Kemakan
omongan sendiri. Senjata makan
tuan. Dia juga bilang, kalau awal dia bisa minta gue buat nerima itu
cuma karna iseng-iseng. Cuma karna
berpikiran, ‘wah ini cewek gue
banget.’ dan ‘wah,
bisa lah gue coba.’. Akhirnya dia
malah bilang, “Eh malah jadi sayang
beneran..” Sukses bikin gue begadang semalaman.
Dua manusia yang terjebak dalam permainannya sendiri. Harusnya emang gue gak pernah coba-coba
Narkoba yang ber-efek-samping-kan buat hati ini. Bete,
aku jadi beneran sayang sama kamu,
Mas. Sukses kamu buat aku mabuk
kepayang.
“Gue
percaya sama lo. Kalau pun lo bohong
tapi gue percaya sama lo, kan gapapa.”
“Gue
sayang banget sama Mika.”
“Oh jadi
selama ini itu bohong? Yang kemaren
sayangnya juga bohong?”
“Halo..”
Selalu
mendung mata gue kalau denger itu. Udah
berapa abad terakhir gue gak denger orang ngomong gitu ke gue, percaya gak percaya; ada yang bertahan buat gue, sama flashback. Kampret.
Dulu juga ada yang ngomong gitu ke gue.
Sering. Walaupun sekedar via text.
Udahan deh nengok ke belakangnya.
Gak seharusnya gue nengok ke belakang.
Takut nabrak yang di depan. Nanti
yang di depan, ketabrak dikit, salah tingkah.
Cara dia
ngomong gitu selalu ngeyakinin. Selalu
ngeyakinin gue kalau beneran ada yang bertahan buat gue. Beneran ada yang mau ngejamin hubungan yang
pasti buat gue. Beneran ada.. Seseorang yang never let me down.
Nyaman, gak mau udahan, bahagia..
Kerasa banget deh hidup kalau udah denger suara dia. Dari laper jadi kenyang, dari ngantuk jadi seger, dari capek jadi semangat, dari iseng jadi sayang. Huft.
By the way,
I’m stuck in the LDR-zone, again
and again.
“Seberapa sayang sih emangnya?”
“Emangnya
sayang beneran sama gue?”
“Kangen
ya?”
Sukses
gue diam atau cengengesan gak jelas kalau dia bertanya seperti itu. Gak tau atau pura-pura gak tau?. Ibarat melihat orang setengah telanjang, lagi jongkok di jamban, dan lo nanya,
“Mau boker, Mas?”. Mas-mas yang lo intipin cuma bisa cengegesan
bete, masang tampang ‘Kalau lo udah
tau, ngapain nanya? Bego.’.
Ini
baru, cinta datang terlambat. Terlambat beberapa waktu. Untung belum ada yang mencetuskan bahwa, ‘cinta yang datang terlambat akan dihukum
hormat ke crush mereka masing-masing
selama beberapa tahun.’ Atau bahasa singkatnya,
‘cinta yang datang terlambat gak boleh masuk ke dalam kelas
bahagia.’. Gue masih dikasih waktu sama
guru yang di kelas buat masuk ke kelas bahagia.
Masih diizinkan meresakan bahagia.
Berapa
lama semua ini bisa bertahan?.
Move on loading.. 99%.
Orang yang nyaris sukses bikin gue pindah hati itu.. Wah,
bahkan 1 buku pun kurang buat gue mendeskripsikan nya. Gak,
gue emang suka lebay orangnya.
Tapi serius, mungkin butuh
beberapa paragraf yang bakal gue habiskan.
Dan mungkin sudah banyak yang jenuh dari awal membaca tulisan gak jelas
ini. Selalu begitu, untuk berbicara dengan dia tentang hal yang
gue simpan rapat-rapat dalam hati,
selalu sulit gue ungkapkan. Harus
bertele-tele diawal. Sampai akhirnya
ketika gue mengungkapkan, dia gak
peduli. Terlanjur bosan. Huft.
Kenapa
gak mau cerita?. I know I shouldnt to tell you.
But I just can’t stop thinkin’ of you.
Asik, ini penting banget. Orangnya bisa bikin gue ngalir kayak air
kencing di jamban. Ada aja bahan pembicaraan yang dia punya untuk dibicarakan
sama gue. Penyampaian dia juga
asik, bikin gue gak mau nutup
telepon. Yaelah bro, emang gue nya aja gak mau berhenti denger
suara dia. Beda dengan gue. Beda jauh.
Gue gak bisa ngomong, diam
membisu, kalau udah ama dia gue berasa
orang cacat. Cacat fisik dan cacat
mental. Bikin dia bosan setengah mampus. Mungkin dalam hati dia bilang, “Kapan sih ini orang matiin telepon
nya?”. Huft.
Baik, jelas lah.
Kalau jahat gue juga gak bakal mau sama dia. Orangnya bisa menanggapi sesuatu dengan
benar. Dia bisa membedakan saat gue
serius dengan becanda. Menanggapi segala
cerita dengan nasehat kecil. Berasa
punya bokap baru. Nasehat yang selalu
dia ambil dari pengalaman yang udah dia dapat selama 18 tahun lama nya. Beda sama gue. Beda jauh.
Gue kalau dengar cerita gak tau pengen nanggepin kayak gimana. Gue gak bisa bedain kapan dia serius dan
kapan dia becanda. Gue gak bisa
nasehatin juga, hal yang dia alami belum
pernah gue alami. Kalau gue sok
tahu-menahu, pasti jelas kayak
bocah. Lagi pula, gak sopan juga, anak 14 tahun ngasih petuah ke orang 18 tahun
yang pengalaman nya jauh lebih banyak dari gue,
yang lebih sering ngasih petuah ke gue.
Huft.
Dewasa, iya,
cara dia mendidik gue, cara dia
membimbing gue.. Nahloh, kenapa beneran berasa dia bokap gue?. Tapi,
gue serius. Dia punya cara buat
menyampaikan sesuatu ke gue. Dia juga
gak emosian, gak pernah ngambek, apalagi marah. Kemana gue bilang begini? Bukan nya emang orang seumuran dia gak pantas
ngambek?. Gue belajar dari
pengalaman. Berapa kali gue mendapatkan
pasangan yang kalau gue salah omong dikit,
marah besar. Gue jaga-jaga
omongan, jaga-jaga tingkah, tai kucing kali. Selama ini orang-orang yang sudah
men-cap-kan-diri-mereka sebagai orang yang pernah berstatuskan sesuatu yang
lebih sama gue, mereka salah. Bukan gue,
gue gak tertutup, gue gak suka
jaga tingkah.
“Yang
penting, Mika, ya,
Mika. Bukan yang lain.”
Terimakasih
sudah bisa menerima gue yang songong,
gampang ngambek, gak bisa
menyampaikan sesuatu dengan bahasa manusia normal. Huft.
Perhatian, jiah..
Berasa cewek manja. Emang
manja, sih. Sekedar menanyakan hal yang sudah terjadi
hari ini, membawa gue belajar menerima
sesuatu yang udah terjadi. Begitu aja
sukses bikin gue gak bisa tidur. Gimana
kalau dia sudah.. Ah, membayangkan dia lebih dari sekedar
menanyakan hal-hal itu aja udah bikin gue cengegesan sendiri. Beda sama gue. Beda jauh.
Mana pernah gue menanyakan hal-hal yang udah terjadi hari ini, gue justru lebih terfokuskan ke hal yang
belum terjadi, atau diwaktu yang akan
mendatang. Mana dia tau apa yang bakal
terjadi, emangnya dia Tuhan?.
Bego. Emang gak cocok jadi istri
yang perhatian. Tapi cocok jadi istri
dia. Jiah. *banting kepala*.
Pengertian, bisa tau dimana saat gue serius dan
becanda. Bisa ngerti kalau gue lagi gak
mood buat ditanyakan hal-hal yang biasa dia tanyakan. Bisa ngerti keadaan gue tanpa perlu gue
jelaskan. Bagaimana bisa?. Padahal ketemu aja belom pernah. Tapi dia selalu tau tentang keadaan gue. Bete.
Dia jadi beneran terlihat kayak Tuhan.
Bego.
Teman
curhat yang baik juga oke lah. Gue
cerita panjang lebar, dia balas dengan
pengertian, perhatian, dan panjang lebar juga tentunya. Dia faham dan mengerti kalau gue pasti
bete, udah ngetik panjang, dibales sekedar 3-4 kata. Iya,
brengsek emang cowok yang begitu.
Di ceritain panjang-panjang,
malah begitu, teriakkin di
kupingnya kalau perlu, “Kembalikan
tenaga yang udah gue buang buat cerita-in semua ke lo, kampret!”.
Dia ngasih tau segala hal yang dia tau,
dia ceritakan pelan-pelan ke gue sampai gue faham. Guru aja gak ada yang sesabar ini, bahkan bokap sama nyokap juga gak sesabar itu
kalau menjelaskan sesuatu ke gue. Kalau
dia mau, gue bakal kasih dia lapak buat
dengerin orang curhat. 1 orang dengan 1
cerita 10.000. Beda sama gue.
Beda jauh. Mana pernah gue bisa
nanggepin cerita panjang lebar yang dia sampaikan. Sekedar ketawa-ketawa kecil. Huft.
Humoris, gak cuma romantis. Udah berapa kali gue ketawa tiap telepon-an
ama dia. Bahkan lebih banyak ketawa
dibanding ngobrol. Gak, dia bukan cowok yang suka pengen sok-sok lucu
depan cewek. Hih. Dia benar-benar menyampaikan beberapa hal
yang ingin dijadikan materi lelucon dengan benar-benar tertata, gue faham,
dan gue ketawa. Beda sama gue. Beda jauh.
Gue mana pernah ngelawak,
lucu-lucu-an kayak dia. Sekalipun
pernah, gak berhasil bikin dia
ketawa. Mungkin dalam hati dia sekedar
berkata-kata, “Apaan sih ini cewek, gak jelas banget.” Atau singkatnya
“Ewh.”. Huft.
Belum
sempat gue ceritakan diawal, nama
lengkap nya Dimas Rizky Pambudi, lahir
di.. Gue kurang tau. Setau gue sih nyokap nya dapet dia dari door prize abis beli gorengan dipinggir
jalan. Kelahiran 25 Agustus 1995, beda 5 tahun sama gue. Item,
tinggi, jelek, bau. Tinggal
di daerah Depok. Bokap, abang, pacar,
temen.. Ah, bisa jadi apa aja. Orangnya mengandung kafein. Beracun.
Sehari cuma tidur 2-3 jam. Abis
kerja langsung ke warnet. Suka
musik-musik japan vocaloid. Demen banget sama manga, yang genre hentai apalagi. Huft. Suka
muji hal yang gak nyata, tapi bikin
orang percaya. Suka cewek pony tail, tomboy,
gak manja, dewasa.
Tapi..
Door prize dari tukang gorengan yang sukses bikin gue begadang, kecanduan,
gila. Huft. Item,
tinggi, jelek, bau, yang
sukses bikin gue buru-buru lulus terus kawin lari sama dia. Huft.
Jauh lebih tua, tapi cinta gue ke
dia gak tua-tua. Huft. Orang yang bisa diandalkan buat bikin gue
bahagia tiap hari. Huft. Depok,
lumayan jauh, tapi gue gak bisa
gue tahan semua biar gak sayang sama dia.
Huft. Mengandung kafein, beracun,
tapi tetap aja gue konsumsi, rela
gue mati konyol, asal dia orangnya yang
kafein dan racun itu. Huft. Mas-mas mesum yang gue nya rela
dimesum-in. Gak, tolong tahan pikiran kotor kalian. Mesum disini dalam artian lain. Huft. Nyebelin
tapi ngangenin. Bisa bikin orang jatuh
cinta dalam jarak. Bangga ya, gue pony
tail-an, banyak yang bilang gue tomboy,
sayang nya.. Di mata dia gue
masih manja, pake banget. Gue gak dewasa, pake banget.
Emang belum bisa jadi yang kamu butuh,
Mas. Tapi cinta ku lebih dari
yang kamu butuh.
1 bulan
10 hari. Baru segitu, tapi perasaan gue udah liar banget. Udah gak ketahan di dalem hati. Bawaannya jantung gue pengen keluar terus
muncrat kemana-mana. Agak geli, tapi emang begitu yang gue rasain. Bawaannya telinga gue harus dengar suara dia
tiap saat, pengen marah, nangis,
atau teriak-teriak, tiap inget
waktu dan harus mengakhiri percakapan,
apa daya, gue juga masih nyadar
kalau gue LDR-an ama manusia. Bawaannya
mulut gue harus ngeluarin kata-kata tentang dia tiap saat ke orang-orang, mulut ini cuma bisa berdo’a dan ngobrol sama
dia. Bawaannya mata gue harus
cepet-cepet ngeliat dia. Mata gue
kering, haus tatapan. Tatapan seseorang yang selama ini bikin gue
gila. Bawaannya tangan gue harus genggam
sesuatu, tolong jangan berpikiran mesum,
genggam tangan maksud gue. Ampe
kadang gue megang-megang tangan orang sekitar sambil membayangkan diri nya yang
gue pegang. Tragisnya, yang gue grepe, itu tangan cewek. Huft.
Wah, udah masuk lembar kedelapan aja. Gue ngetik novel aja perjuangan banget buat
nyampe lembar ini. Giliran buat
dia, delapan lembar aja masih kurang
buat gue. Padahal sekedar
tulisan-tulisan gak jelas.
Tulisan-tulisan yang sekedar gue tumpahkan apa yang ada di pikiran gue. Ini yang gue pikirkan tiap inget dia. Buruk memang.
Tapi daripada gue tahan-tahan terus?.
Tulisan
ini sengaja gue post di hari ulang
tahun gue ini. Jangan bilang lo semua
gak tau kalau gue lagi ulang tahun?.
Duh, sedih. Tulisan yang emang udah 1 bulan gue
buat. Tapi cuma 8 lembar, kalau boleh gue bocorkan, gue buat ini 1 hari. Tiap hari ada aja yang diedit, 3-4 kata yang mungkin gue ubah atau
ganti. Cukup dia baca aja tulisan ini
tanpa rasa bosan, udah jadi kado
istimewa banget buat gue.
Mas’e.. Matur suwun,
yo. Makasih udah mau nemenin aku
ampe sekarang. Baru 38 hari, 2 hari lagi 40 hari-an kita jadian. Loh,
jadi kayak orang mati. Rapopo
lah, mas, kalau aku mati nya dipelukan mu. Bertahan ampe sekarang aja udah bikin aku
seneng, seneng sampe pengen cepet-cepet
punya anak sama kamu, loh (?). Emang dari awal pengen punya anak sama
kamu, sih, Mas.. .
Makasih udah mau jadi kopi bentuk manusia buat aku. Makasih udah mau dikangenin tiap saat. Intinya,
makasih lah buat semua nya. Maaf
kalau aku gak bisa jadi kayak kamu,
wong, aku bukan kamu. Tapi aku mau jadi bagian dari kamu :). Kalau aku jarang bilang ‘sayang’ ke
kamu, bukan karna aku ndak sayang sama
kamu, Mas. Aku masih belum terbiasa ngungkapin yang aku
rasain ke kamu, Mas. Tapi percaya deh, kalau aku.. Aku sayang kamu, Mas Dimas.
Sayang banget sama kamu, Mas. Tetap sayang sama aku dalam jarak ya, Mas.
Jangan pernah bosen sama aku. Inyong’e tresno karo sampeyan, Mas. :)
Paragraf
diatas emang agak.. Asudahlah. Abaikan sejenak, itu pesan khusus buat seseorang yang nan jauh
disana. Oh iya, makasih banget buat yang udah ngucapin
‘selamat ulang tahun’ buat gue. Makasih buat
yang betah baca tulisan 8 lembar ini.
Makasih yang udah ngasih kado secara gak langsung. Makasih yang tetap mau mencintai gue dalam
diam. Cielah. Makasih juga yang tetap mau menyayat hati
baca pesan-pesan diatas karna tau kalau gue sayang sama yang lain. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk
membaca 3000 kata yang gue rangkai ini. :D
wah kuwen :o
BalasHapusopo kui mas?
BalasHapus