Minggu. Semalem sendiri lagi. Gak ada temen lagi. Murung lagi.
Bingung mau ngapain lagi. Berasa
cepat banget waktu berlalu. Kayaknya
baru kemarin hari Minggu, sekarang udah
Minggu lagi. Diem dalam rumah. Gak tau mau ngapain. Kurang kerjaan. Sampai akhirnya gue memutuskan buat ngetik.
Hujan
lagi, hujan lagi, hujan lagi.
Banjir dimana-mana. Basyaaah
dyehhh. Gak cuaca, gak hati,
sama mendungnya, sama
suramnya, sama gelapnya, sama kosongnya... #Halah #AkuSihCuekAja . Tapi enggak buat kali ini, hujan dan banjir bukan mengakibatkan, atau tidak sama sekali mengakibatkan
kekosongan disepanjang jalan, justru
jalanan yang digenangi oleh air malah semakin ramai akan insan insan yang
mengungsi, orang-orang yang mengamankan
barang-barang mereka, manusia-manusia
yang melindungi keluarga masing-masing,
dan makhluk-makhluk kepo. Gue
gak ngerti sama sekali sama orang yang ramai di lautan komplek dengan alasan
yang terakhir (baca:kepo). Ketika
orang-orang menghindari bencana, mereka
justru datang kepada bencana.
Yup..
Talking about ‘Buanjer’, kita semua
tau, tentang bencana yang melanda negri
ini. Nengok kanan gerimis, nengok kiri hujan, lihat kedepan banjir, mau liat ke belakang, takut flashback. Nengok kanan ada kayu ngambang, nengok kiri ada sampah terbawa arus, liat depan ada anak kecil berenang, tunggu... Dia bukan berenang, dia hanyut,
liat belakang ada mantan sama kita lagi pelukan mesra, tuh kan,
gue bilang jangan liat kebelakang,
takut flashback. Gue merupakan
salah satu dari sekian ribu orang yang terkena banjir. Di tempat gue tinggal sekarang ini, banjir yang bisa masuk sampai ke dalam rumah
terjadi sebanyak 5 kali termasuk ini. Mulai
dari tahun 1997, 2002, 2007,
2012, dan saat ini, 2014.
Dari sekian banyak banjir yang terjadi,
ini banjir terparah menurut gue.
Pertama kali nya terjadi banjir yang memaksa gue untuk mengungsi.
Sebelum
mengungsi, seperti keluarga hebat yang
lain, keluarga gue memilih
bertahan. Terutama nyokap. Beliau orang yang paling getol banget
bertahan di rumah itu, padahal dia lagi
ngurus adek ke-empat gue yang baru lahir.
Ia pikir akan menghabiskan banyak waktu,
tenaga, dan uang jika harus
mengungsi. Bokap adalah orang yang
pendapatnya tak pernah sinkron dengan nyokap.
Beliau berpikir bahwa mengungsi disaat banjir seperti ini sangatlah
penting. Demi keselamatan
keluarganya. Uang, tenaga,
bahkan waktu, ia relakan demi
keselamatan gue dan keluarga. Gue
sendiri cuek banget. Hidup atau
enggaknya gue udah diatur sama yang maha kuasa,
gue ngikutin arus air aja,
iya, gue ngalir aja di air
banjir. Mau kemana aja gue ngikut, gue terima.
Banjir
kali ini menurut gue sangat ekstrim,
berita dimana-mana isinya banjir.
Bahkan debat yang ada di beberapa channel televisi tentang politik
indonesia membahas tentang banjir.
Bahkan sempat gue liat ada berita yang menyiarkan orang yang lagi hanyut
dibanjiran, yang menjadi masalah, kenapa disiarkan, bukan ditolong?. Bencana kali ini memakan korban jiwa yang lebih
banyak dari banjir-banjir sebelumnya.
Banyak rumah yang atapnya udah gak keliatan lagi. Banyak rumah yang atapnya keliatan, keliatan kalau kita nyelam kedalam air. Tapi gak perlu banyak omong, gue tetap menikmati dan mensyukuri apa yang
terjadi, gue masih bisa merasakan
bencana ini, gue masih bisa main
banjir-banjiran, gue masih bisa
tertawa, bercanda, dan berkumpul bersama beberapa orang yang
menghangatkan keadaan saat-saat seperti ini.
Gue
pun memantau tetap keadaan disekitar.
Gue sempat mengambil beberapa gambar dari bencana ini, #MentalAlay #Narsis . Sumpah demi apapun, bukan bermaksut meremehkan bencana yang
terjadi, gue benar-benar turut berduka
dengan bencana ini, terutama dengan jadi
nya gue sebagai korban. Entah kenapa, gue berpikir bahwa kejadian ini perlu dan
sangat harus diabadikan dalam suatu bentuk seni. Air seni #Halah #AkuSihGakNgerti . Ini beberapa gambar yang gue dapatkan:
Gue
hanya bisa turut prihatin dan berduka cita atas beberapa keluarga yang
ditinggalkan oleh salah satu keluarganya,
beberapa keluarga yang kehilangan harta bendanya, beberapa insan yang ditinggalkan oleh
kekasihnya, #Halah #JelasJelasMasihPahit
#BaruPutus . Semua cobaan ini datangnya
dari Tuhan, maka pasti ada hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian ini; Tuhan menguji kesabaran kita dalam menghadapi setiap bencana, Tuhan menginginkan kita ikhlas akan segala sesuatu hal yang kita punya
dan dia tarik kembali, dan yang
selalu gue pegang teguh, keyakinan
bahwa, Tuhan menginginkan kita agar tetap tegar dan mensyukuri
segala keadaan, dimanapun, kapanpun,
dan bagaimana pun :).
Gue
rasa cukup untuk pertemuan kita di postingan pertama ini. Alasan gue memilih tema ‘bencana’ sebagai
postingan pembuka di blog ini bukan semata-mata karna gue sengaja agar blog ini
menjadi bencana bagai semua orang yang serius membaca blog ini, tapi,
sekedar mengingatkan,
menghangatkan, dan mencoba
menjadikan pembelajaran sebuah bencana.
Bukan berniat untuk menjadikan sebuah bencana sebagai bahan lelucon atau
apapun, tapi... #AhSudahlah . Maaf juga karna banjir sudah berlalu. Gue baru teringat tentang tema ini saat Minggu sore hari ini. See you on next post, guys.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar